RSS

Anak Tangga yang Menuntun Tubuhmu Menyusuri Tubuhnya

catatan kecil: sebuah tulisan, untuk ulang tahun mbak Tyas Permanasari, yang aku harap, orang yang membacakan puisi ini untuk pertama kalinya adalah, om Bambang Purnomo.

Anak Tangga yang Menuntun Tubuhmu Menyusuri Tubuhnya
:Tyasning Permanasari

Ini langkah keberapa, mungkin seringkali engkau bertanya
pada dirimu sendiri, pada jantungmu — yang setiap detaknya begitu jelas menghitung sunyi

sebuah tangga tengah menuntun tubuhmu, untuk menyusuri tubuhnya
sebuah tangga, yang selalu kau harap, atau masih sekadar kau duga, ujungnya menyentuh surga

tanpa kau sadari, engkau tengah membiarkan kakimu menyusun langkah demi langkah,
menapaki lelah demi lelah, sembari terus menatap sepenuh harap ke anak tangga di depanmu; sementara bayanganmu, selalu memanjang, sepanjang lengan waktu, menutup seluruh anak tangga di belakang punggungmu

setiap anak tangga yang telah kau tinggalkan, akan mulai berubah warna, sesuai seberapa tabah, seberapa lelah engkau melewatinya. adakalanya sebuah warna harus membuatmu berhenti, untuk sekadar ingin mengulanginya lagi

sesekali sebuah detik waktu ingin menjatuhkan dirinya lebih keras ke tubuhmu, hanya untuk mengingatkanmu: suatu hari, jantung waktu tak lagi mampu berdetak lebih lama dari itu.

adakalanya saat kau ingin menuntun tubuhmu untuk melangkah ke anak tangga di depanmu, udara yang begitu dingin begitu ingin: menegur tubuhmu, memberikan kebekuan yang tak semestinya ke jantungmu. saat itulah yang kau butuhkan adalah pelukan, sepasang lengan yang mampu menggenapkan dekap, lantas menuntunmu, menuntunmu ke ujung tangga

melepas semua sunyi dan air mata…

 
Leave a comment

Posted by on November 7, 2011 in rangkai kata

 

Maut Untuk Malaikat Maut

Pertemuan pertama.
“Siapa kamu? Ada keperluan apa?”
Ia tak menjawab pertanyaannya. Ketika kuberkedip, dia hilang.

Pertemuan kedua.
Orang yang sama, berdiri di hadapanku dengan wajah datar. Belum lagi kubertanya ia hanya berkata “aku datang menjemputmu.”
“Aku takkan pergi kemana-mana.” kujawab seperlunya. Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on September 30, 2011 in fiksi

 

Setetes Doa di Pucuk Pohon Bidara

untukmu ada setetes doa, yang terdiam di pucuk pohon bidara
aku telah mengenalmu
jauh sebelum mata kita saling berjabat tatap.
jauh sebelum waktu mampu berdetak lebih kencang untukku
keteduhan, yang kurasakan tiap kali melihatmu
adalah keteduhan yang tak serta merta terlahir begitu saja
—barangkali, memang ada keajaiban jemari Tuhan di sebaliknya.

sebelum senja menambah rona wajah kota
aku selalu menunggumu Read the rest of this entry »

 
12 Comments

Posted by on August 17, 2011 in rangkai kata

 

Gugur Bisma

Bisma:

Di bawah senja Kurusetra, aku melihat, surga begitu dekat. Dan embun, mulai meruncing di pelupukmu. menunggu dijatuhkan waktu, untuk memaku kaki-kakimu.
Di lengang dadaku, kautahu, jauh sebelum hari ini tiba, jauh sebelum anak panah melukis indah darah:
ada janji yang bersembunyi di dasar sunyi. jauh — melebihi kesepiannya sendiri.

Sebelum semesta luka terhampar raya, sebelum tubuhku bersembunyi di balik punggung waktu,
ada yang belum sempat terucap: kata-kata, yang ingin terlahir bersama derai air mata.
Read the rest of this entry »

 
16 Comments

Posted by on July 31, 2011 in rangkai kata

 

Beribadah di Tubuhmu

kelak, sayangku; kita akan berdoa
di sebuah tempat peribadatan –
dengan buahdadamu sebagai kubahnya.


Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on July 30, 2011 in rangkai kata

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.